GMNISULTRA.OR.ID - Saat ini ditahun 2025 seluruh Sultra GMNI telah banyak menciptakan kader-kader yang siap diperuntukan untuk menjadi pemimpin bangsa dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia. Dalam perjalanannya, GMNI di Sultra mengalami persoalan hingga memimbulkan protes dari sejumlah kader-kader yang telah berjuang dari bawah yang kini terasingkan. Persoalan itu menitik-beratkan pada dilegitimasinya hi dari luar GMNI yang tanpa proses lalu dinyatakan sebagai Kader GMNI atau Alumni GMNI.
Sebagai hal yang harus diketahui, yakni: syarat untuk masuk menjadi Anggota GMNI adalah melalui proses pengkaderan yang dinamakan Pekan Penerimaan Anggota Baru disingkat PPAB atau dahulunya disebut Kaderisasi Tingkat Pemula. Tetapi pada prosesnya, orang-orang luar yang dinyatakan sebagai kader GMNI tidak melalui proses ini. Mereka juga sama sekali tidak pernah ber-GMNI atau mendirikan Cabang dan Komisariat.
Ada sejumlah orang di Sultra yang dinyatakan sebagai Kader GMNI tanpa melalui proses menjadi anggota GMNI. Inilah orang-orang tersebut dan penjelasan asal muasal dinyatakan sebagai kader GMNI.
1. Irfan Ido (Dosen di Universitas Halu Oleo)
Foto: Irfan Ido/MEDIA GMNI SULTRA.Irfan Ido telah dinyatakan oleh sebagian Kader GMNI aktif di Kendari sebagai Kader GMNI dan saat ini dinyatakan sebagai alumni GMNI Kendari.
Secara sah, Irfan Ido bukanlah Kader GMNI, karena tidak penah sama sekali ber-GMNI apalagi membawa panji-panji GMNI di Kendari.
Asal-muasal status Kader GMNI yang disematkan oleh Irfan Ido, berawal dari klaiman dari dirinya sendiri yang menyatakan dirinya sebagai Kader GMNI di Kendari di Tahun 1998 kepada anak-anak GMNI aktif di Kendari dan mereka percaya begitu saja.
Ia mengatakan bahwa ia menjadi GMNI melalui Surat Mandat yang tidak diketahui entah dari mana.
Hal-hal yang membantahkan status Irfan Ido sebagai Kader GMN atau Ia Bukanlah Kader GMNI
a. Dari penelusuran, Surat Mandat yang dimaksud adalah surat mandat untuk menbentuk GMNI di Kendari atau membentuk DPC GMNI di Kendari, tetapi pada kenyataannya pembentukan GMNI di Kendari tidak juga terbentuk hingga 2015. Ini secara otomatis menggugurkan status Kadernya di GMNI karena ia tidak pernah ber-GMNI
~ Penjelasannya agar bisa dimengerti:
- Surat Mandat itu tidak membuat Ifan Ido sampai melakukan Kaderisasi Tingkat Pemula atau PPAB sebagai syarat untuk menjadi anggota GMNI.
- Surat Mandat itu tidak membuat Ifan Ido berhasil membuat Cabang GMNI di Kendari.
- Surat Mandat itu diabaikan begitu saja atau tidak dijalankan.
- Klaiman bersadarkan Surat Mandat itu juga diragukan kebenarannya, maksudnya: Surat Mandat itu tidak diketahui (tidak dijelaskan sendiri oleh Irfan Ido) berasal dari mana? Siapa yang membuat? Dari siapa ia peroleh? Ini simpang siur!
b. Tidak ada satupun orang yang meriwayatkan Irfan Ido bahwa ia pernah ber-GMNI untuk bisa memberikan kesaksian selain diri mereka sendiri.
c. Tidak adanya bukti Fisik berupa Surat Mandat dan SK Kepengurusan (Karena Irfan Ido juga mengklaim dirinya sebagai Mantan Ketua GMNI Kendari).
d. Tidak ada pengakuan atau saksi hidup dari orang-orang di Kendari yang hidup semasa dengan Ifan Ido ditahun 1998 bahwa ia pernah ber-GMNI.
e. Tidak ada kesaksian dari seorang pun atau yang meriwayatkan bahwa GMNI pernah terbentuk di Kendari ditahun 1998, itu artinya bahwa klaiman Irfan Ido sebagai Ketua Cabang terbantahkan.
f. Tidak ada Pengakuan dari Presidium GMNI (Sekarang sebutannya DPP GMNI) yang menjabat ditahun 1998 bahwa GMNI pernah ada ditahun itu dan pengakuan dari Kader GMNI dari tempat lain ditahun 1998.
g. Irfan Ido hanya diakui sebagai Kader GMNI oleh: Twedy Noviadi (Mantan Ketua Presidium GMNI 2 Periode), Zuzaman dan Pengurus DPP versi Imanuel, DPD GMNI Sultra versi Imanuel, dan DPC GMNI Se-Sultra versi Imanuel.
h. Yang membuat bingung dan tak masuk akal dari pernyataan mereka adalah pengakuan sebagai Ketua DPC GMNI Kendari tanpan adanya pengurus DPC lainnya, artinya pengurus hanya ada satu orang, yakni Ketuanya saja. (Hal ini berdasarkan pengakuan mereka tanpa melibatkan atau menyebutkan orang lain didalamnya selain mereka sendiri dalam organisasi).
i. Secara kasat mata terbentuknya Cabang GMNI (DPC GMNI Kendari) di Kendari barulah terbentuk di 2015 dan itu bisa membantahkan ke-GMNI-an-nya seorang Irfan ido yang katanya sendiri ber-GMNI ditahun 1998.
2. Alwaludin Usa (Ketua Bawaslu Muna Barat)
Awaludin Usa bukan kader GMNI karena ia tidak ber-GMNI sama sekali saat ia masih berstatus mahasiswa.
Awaludin Usa mendapatkan status GMNI-nya karena ia mencalonkan sebagai Anggota KPU melalui Rekomendasi GMNI dan saat menjadi Anggota KPU ia sering menjadi donatur disetiap kegiatan-kegiatan GMNI.
Diketahui, Awaludin Usa adalah Rekomendasi GMNI saat menjadi Anggota Bawaslu Mubar dan tidak menjadi rekomendasi GMNI saat menjadi mencalonkan menjadi anggota KPU Sultra dan hingga menjadi Ketua Bawaslu Mubar hingga saat ini.
3. Muhammad Rahim (Ketua DPRD Kabupaten Muna dari Fraksi PDIP)
Foto: Muhammad Rahim memakai baju merah polos dan memakai Gordon GMNI/MEDIA GMNI SULTRA.Muhammad Rahim bukan kader GMNI karena ia tidak ber-GMNI sama sekali saat ia masih berstatus mahasiswa.
Muhammad Rahim sering dipakaikan Gordon GMNI saat menghadiri acara-acara GMNI di Kabupaten Muna, belakangan ini, ia juga telah diangkat sebagai dewan pembina GMNI di Kabupaten Muna.
Hanya karena sering menjadi donatur dan ngumpul bareng GMNI serta hanya karena ia Ketua DPRD Kabupaten Muna yang sangat menguntungkan dari sumber biaya bagi GMNI versi Imanuel maka ia telah dianggap sebagai Kader GMNI.
Jika ada yang berpikir bahwa ia Kader GMNI karena dia sering menjadi sumber biaya buat GMNI di Muna berarti orang itu sedang GOBLOK.
4. Rahmatia (Ketua KPU Buton)
Rahmatia bukan kader GMNI karena ia tidak ber-GMNI sama sekali saat ia masih berstatus mahasiswa.
Ada sebagian orang yang terafiliasi dengan GMNI Kubu Imanuel mengatakan bahwa Rahmatia adalah bagian dari GMNI dan dianggap sebagai kader GMNI, padahal ia tidak pernah ber-GMNI. Hanya karena ia direkomendasikan GMNI lalu ia dianggap sebagai Kader GMNI.
Yang perlu dipahami dan garis bawahi adalah Asril hanyalah Rekom atau Rekomendasi GMNI.
Jika ada yang berpikir bahwa ia Kader GMNI karena dia telah direkomendasikan GMNI berarti orang itu sedang GOBLOK.
5. Asril (Ketua KPU Sultra)
Asril bukan kader GMNI karena ia tidak ber-GMNI sama sekali saat ia masih berstatus mahasiswa.
Asril adalah Kader HMI tulen yang mencalonkan diri sebagai Anggota KPU Sultra melalui rekomendasi GMNI.
Ada sebagian orang yang terafiliasi dengan GMNI Kubu Imanuel mengatakan bahwa Asril adalah bagian dari GMNI dan dianggap sebagai kader GMNI, padahal ia tidak pernah ber-GMNI. Hanya karena ia direkomendasikan GMNI lalu ia dianggap sebagai Kader GMNI.
Yang perlu dipahami dan garis bawahi adalah Asril hanyalah Rekom atau Rekomendasi GMNI.
Jika ada yang berpikir bahwa ia Kader GMNI karena dia telah direkomendasikan GMNI berarti orang itu sedang GOBLOK.
6. Iwan Rompo (Ketua Bawaslu Sultra)
Iwan Rompo bukan kader GMNI karena ia tidak ber-GMNI sama sekali saat ia masih berstatus mahasiswa.
Iwan Rompo juga Kader HMI tulen yang mencalonkan diri sebagai Anggota Bawaslu Sultra melalui rekomendasi GMNI.
Ada sebagian orang yang terafiliasi dengan GMNI Kubu Imanuel mengatakan bahwa Iwan Rompo adalah bagian dari GMNI dan dianggap sebagai kader GMNI, padahal ia tidak pernah ber-GMNI. Hanya karena ia direkomendasikan GMNI lalu ia dianggap sebagai Kader GMNI.
Yang perlu dipahami dan garis bawahi adalah Iwan Rompo hanyalah Rekom atau Rekomendasi GMNI.
Jika ada yang berpikir bahwa ia Kader GMNI karena dia telah direkomendasikan GMNI berarti orang itu juga sedang GOBLOK.
7. Muhammad Husein alias Icank
Muhammad Husein bukan kader GMNI karena ia tidak pernah mengikuti PPAB sama sekali sebagai proses awal untuk masuk di GMNI menjadi anggota didalamnya.
Ia hanya pernah ikut LK 1 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kendari dan disahkan menjadi Kader HMI.
Sejarah Muhammad Husein dekat dengan GMNI hingga ia dianggkat menjadi Kader GMNI
Awalnya Muhammad Husein hanya berteman akrab dengan salah satu Kader GMNI bernama Gede Ngurah dan sering bersamanya. Lantaran tempat tinggal Si Gede Ngurah menjadi tempat ngumpul bareng Kader GMNI, maka Si Muhammad Husein ikut nimbrung bersama GMNI. Karena hari-hari nongkrong bareng, maka ia menjadi akrab bersama GMNI. Ia juga ikut bersama rombongan GMNI Kendari saat KTD GMNI di Baubau, tetapi ia tidak mengikuti rangkaian kegiatan KTD karena ia bukanlah kader GMNI.
Awal mula Muhammad Husein dianggap kader GMNI ia sering dilibatkan dalam setiap kegiatan GMNI (Karena sudah akrab dengan petinggi-petinggi GMNI Kendari) dan titik puncaknya saat ia ditunjuk menjadi Ketua Pimpinan Sidang pada Konfercab I GMNI Kendari sementara ia masih berstatus Kader GMNI walau tidak aktif.
Meski menuia protes, dari itulah ia menguat menjadi Kader GMNI yang tidak pernah PPAB. Ia diangkat karena faktor Kedekatan dan sampai saat ini oleh GMNI versi Imanuel dia telah dianggap sebagai kader GMNI.***